(MUST SEE) Gadis Rusia Dengan Pengelihatan X-Ray!!!

http://img.thesun.co.uk/multimedia/archive/00064/F_200401_january26ed_64236a.jpg


MOSKOW - Penampilannya biasa saja. Namun, Natasha Demkina menyimpan kemampuan yang membuat banyak orang takjub. Remaja Rusia kelahiran 1987 itu dijuluki gadis dengan mata sinar-X‘ (X-ray girl). Mata Natasha memang istimewa. Tanpa bantuan alat apapun alias dengan mata telanjang, dia bisa melihat organ dalam tubuh manusia. Jadi, sorot matanya seperti alat rontgen yang mampu melihat jerohan tubuh manusia

“Saya punya dua jenis penglihatan yang bisa diubah tanpa sebab. Kalau ingin melihat kondisi kesehatan seseorang, saya tinggal memikirkannya,” kata gadis kelahiran kota Saransk, Rusia itu.


“Saya bisa melihat keseluruhan struktur tubuh manusia. Letak organ-organ tubuhnya serta kondisinya,” jelas Natasha. “Saya tak bisa menjelaskan mengapa saya punya kemampuan seperti ini, dan bisa mengenali penyakit. Ini bawaan lahir. Yang jelas, organ tubuh yang tidak berfungsi baik menimbulkan radiasi tertentu.”


Sayangnya mata bak alat rontgen itu hanya bisa berfungsi pada siang hari. Pada malam hari, kemampuan rontgen-nya hilang, dan dia melihat seperti orang-orang lain.


Menurut sejumlah media, diagnosa terhadap suatu penyakit mata Natasha seringkali bahkan lebih akurat dibandingkan yang dibuat dokter. Meskipun dokter-dokter itu menggunakan peralatan medis terbaru.


http://www.unexplained-mysteries.com/gallery/albums/enigma/normal_NatashaDemkina2.jpg

http://imagehost.ngobrolaja.com/files/Marios/tmbus%20pandang.jpg


Keistimewaan bawaan itu ketahuan saat Natasha berusia 10 tahun. Mulanya dia mengatakan pada orangtuanya bahwa dia tiba-tiba bisa melihat organ dalam tubuh teman-teman dan kerabatnya.

Karena masih kecil, kala itu Natasha tidak mengenal istilah medis atau nama-nama organ dalam tubuh sehingga ginjal disebutnya kacang dan usus besar disebutnya selang.

Tatyana, ibunya, ketakutan lalu memeriksakannya ke dokter. Tapi, bocah itu justru ‘memeriksa’ organ dalam si dokter. Dia menggambarkan struktur tubuh si dokter. “Waktu itu dokter tidak bisa bilang apa-apa,” kenang sang ibu.


Dalam usia kanak-kanak itu, Natasha juga mampu mendeteksi bakteri atau virus yang berada dalam berbagai organisme. Namun matanya tidak bisa dipaksa bekerja dalam waktu lama karena setelah itu dia bisa sakit kepala berkepanjangan.


Ibunya berusaha menyembunyikan keistimewaan Natasha. Namun kabar daya linuwih Natasha menyebar dari mulut ke mulut. Makin banyak yang mengetahui kemampuan dia setelah sebuah stasiun televisi meliput Natasha. Sejak itu rumahnya menjadi rujukan orang-orang sakit.


Pada Januari 2004, sebuah media Inggris mengundangnya ke London. Di ibukota Inggris itu Natasha yang didampingi ibunya unjuk kemampuan.


Briony Warden, reporter tabloid The Sun, sempat menjadi pasien Natasha. Warden baru saja mengalami kecelakaan mobil. Natasha dengan tepat menggambarkan luka dalam dan bagian tubuh Warden yang retak.


Briony Warden menggambarkan bagaimana keadaan Natasha saat melihat isi tubuhnya. “Biji matanya membesar. Dia seperti sedang kesurupan,” kenang Warden.


Gambaran Natasha tentang Warden bisa dibilang 90 persen akurat. Misalnya dia menyebut ada benda asing pada rahangnya. Wartawan itu kemudian menyatakan bahwa pada rahangnya dipasang titanium untuk menyokong tulang-tulangnya yang retak akibat kecelakaan.


“Yang paling mengagumkan adalah saat dia menemukan kerusakan pada kaki kiri saya,” ujar Warden. “Sebenarnya tulang kering saya patah. Ternyata dia menemukan dua retakan terpisah dan bilang saya punya kesulitan menekuk lutut.”


Menurut Warden yang saat diterawang mengenakan baju tebal, Demkina bisa melihat bekas plat-plat serta sekrup untuk menyambung tulangnya yang patah. “Padahal baru beberapa jam sebelumnya pengangkatan itu dilakukan.”


Sampai usianya mencapai 21 tahun saat ini, Natasha tetap membantu banyak orang untuk mendeteksi penyakit di organ dalam mereka. Ia bercita-cita jadi dokter.Kini dia mahasiswa di Moskow, Rusia. Kemampuannya mendapat pengakuan dari Yoshio Machi, profesor medis di Universitas Tokyo, Jepang. (pravda/surya)

0 komentar:

Posting Komentar